Biaya / Retribusi

Kinerja Investasi

Untuk keterangan lebih detail silahkan download artikel ini

 

Kaidah Pelaksanaan

Rencana Umum Penanaman Modal Daerah (RUPMD) menjadi dokumen perencanaan di bidang penanaman modal di tingkat daerah untuk mensinergikan kebijakan-kebijakan dasar kegiatan penanaman modal. Daerah-daerah yang memiliki prospek pengembangan investasi, diharapkan menyusun RUPMD yang mengacu pada Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) sebagai dokumen perencanaan di bidang penanaman modal pada tingkat nasional.

Penanaman modal diarahkan kepada pemerataan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi melalui perencanaan pengembangan wilayah dan optimalisasi potensi investasi daerah, sehingga diharapkan mampu menjadi motor penggerak tumbuhnya sentra industri dan aktivitas ekonomi di Kabupaten Banyuwangi. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus menyiapkan peta investasi yang menjadi prioritas pengembangan investasi secara komprehensif.

RUPMD membutuhkan berbagai perincian lebih lanjut terutama terkait dengan arahan kebijakan dasar seperti perbaikan iklim investasi, layanan penanaman modal dan pengembangan investasi sektor-sektor yang menjadi prioritas daerah. Sesuai dengan sifat penanaman modal yang lintas sektoral, maka diperlukan koordinasi yang kuat. Untuk melakukan koordinasi secara integral, sinergis dan komprehensif; maka diperlukan kelembagaan yang kuat. Kelembagaan merupakan aspek paling fundamental dan menentukan tingkat keberhasilan berbagai entitas organisasi agar dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan norma, standar, dan prosedur yang berlaku.

Kegiatan penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian Kabupaten Banyuwangi dan ditempatkan sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu perekonomian yang berdaya saing. Untuk itu, lembaga penanaman modal di Kabupaten Banyuwangi harus mampu menjadi inisiator, berorientasi "problem solving", dan memfasilitasi secara proaktif, baik kepada calon penanam modal maupun penanam modal yang sudah menjalankan usahanya di Kabupaten Banyuwangi.

Infrastruktur Pendukung

INFRASTRUKTUR PENDORONG INVESTASI

Meningkatnya minat investasi serta realisasinya yang akan berdampak kepada semakin meningkatnya akselerasi perekonomian suatu wilayah tentunya harus mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat serta komponen pendukungnya termasuk didalamnya adalah Pemerintah sebagai penyelenggara serta sektor swasta sebagai motor penggerak perekonomian itu sendiri.

Dukungan yang diberikan oleh pemerintah sendiri adalah ketersediaan infrastruktur yang merupakan piston penggerak mesin investasi sehingga laju pertumbuhan investasi itu sendiri menjadi suatu tolok ukur peningkatan perekonomian suatu wilayah.

Ketersediaan Infrastruktur meliputi :

A. Jalan

 

Sebagai pendukung investasi, kondisi jalan, lebar jalan, panjang jalan juga menjadi faktor penentu minat investasi, berikut data jalan dan kondisinya di Kabupaten Banyuwangi :

No

Uraian

Panjang (Km)

Kondisi

Ket.

Baik (Km.)

Sedang (Km.)

Rusak (Km.)

1.

Jalan Nasional

101

50

51

-

 

2.

Jalan Propinsi

114

44

62

8

Ringan

3.

Jalan Kabupaten

1.541

-

-

-

-

B.   Air Bersih

Ketersediaan air bersih menyangkut kapasitas, jangkauan, serta kualitas air bersih yang ada menjadi faktor utama dalam investasi. Kebutuhan yang besar akan air bersih bagi industri harus ditunjang dengan ketersediaan air bersih yang dimiliki oleh suatu wilayah untuk berkembangnya investasi.

Data Penunjang Ketersediaan Air Bersih Kabupaten Banyuwangi :

No.

Uraian

Kapasitas

Keterangan

1.

Sumber Air Gedor

17 Liter/Detik

-

2.

Sumber Air Taman Suruh

20 Liter/Detik

-

3.

Embung Lider

25 Liter/Detik

-

4.

Umbul Pule

20 Liter/Detik

-

5.

Embung

15 Liter/Detik

-

6.

Waduk Bajulmati

30 Liter/Detik

-

C.  Listrik

       

Kapasitas listrik di Banyuwangi saat ini mencapai 1.500.MVA terpasang dan tersedia, hal ini tentunya merupakan penunjang yang sangat besar bagi sebuah investasi dan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya kebutuhan, utamanya untuk mendukung investasi.

D. Telekomunikasi


Teknologi Informatika sangat didukung oleh ketersediaan jaringan telekomunikasi suatu wilayah, karena saat ini teknologi informatika kita masih berbasis telekomunikasi.. Berikut data jaringan telekomunikasi yang ada di Kabupaten Banyuwangi. 

No

Kecamatan

Jumlah Menara

No

Kecamatan

Jumlah Menara

1

Kalibaru

15

13

Kalipuro

13

2

Banyuwangi

12

14

Wongsorejo

23

3

Tegalsari

8

15

Kabat

7

4

Bangorejo

10

16

Rogojampi

8

5

Glenmore

14

17

Srono

17

6

Gambiran

9

18

Muncar

11

7

Genteng

11

19

Tegaldlimo

9

8

Pesanggaran

7

20

Siliragung

6

9

Licin

5

21

Singojuruh

7

10

Cluring

12

22

Songgon

7

11

Giri

4

23

Purwoharjo

9

12

Glagah

4

24

Sempu

9

E. I r i g a s i


Jaringan irigasi yang memadai tentunya sangat berarti sekali perannya dalam mendukung dan menunjang investasi, disamaping untuk pengairan sawah, irigasi juga dibutuhkan untuk proses produksi dalam sebuah investasi di bidang industri. Berikut data jaringan irigasi yang ada di Kabupaten Banyuwangi :

F. Pelabuhan Penyeberangan


Pelabuhan ketapang merupakan pelabuhan penyeberangan satu-satunya di ujung timur pulau Jawa yang merupakan jembatan penghubung Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Dioperasikan oleh                       :     PT. ASDP

Jumlah Kapal/Fery beroperasi       :     34 Kapal (Fery dan LCT)

Kapasitas penumpang/hari           :     1.665 Orang

Kapasitas Angk. Kendaraan          :     1.015 (Roda 2)

Kapasitas Angk. Kendaraan          :     197   (Campuran)

               Jarak / waktu tempuh                               :        2 Jam

G. Pelabuhan Udara / Bandara

   

Bandar Udara Blimbing Sari yang berada pada wilayah administratif Kecamatan Rogojampi dan merupakan satu-satunya Bandara di wilayah timur pulau jawa yang flight-nya setiap hari melayani route Surabaya – Banyuwangi – Surabaya

      Dioperasikan oleh                       :     Departemen Perhubungan RI

      Jumlah Pesawat beroperasi          :     1 Unit (Wings Air)

      Kapasitas penumpang/hari           :     100 Orang (PP)

      Jarak / waktu tempuh                 :     35 Menit (Banyuwangi – Surabaya)

      Panjang Landasan                      :     1.900 Meter

Saat ini pula, Bandara Blimbing Sari dijadikan sebagai sarana pelatihan bagi calon-calon pilot komersil melalui institusi pendidikan BIFA dan dalam waktu dekat juga akan membangun sarana-sarana penunjang untuk pendidikan. Disamping BIFA, Kementrian Perhubungan melalui STP juga akan menjadikan Blimbing sari sebagai salah satu lokasi untuk pelatihan terbang bagi calon-calon Pilotnya.

H. Pelabuhan Petikemas/Barang

 

Pelabuhan Meneng/Tanjungwangi merupakan pelabuhan barang/bongkar serta penunmpang antar pulau muat untuk distribusi barang dan logistik wilayah timur pulau jawa serta bali dan nusa tenggara, berikut data teknis pelabuhan Tanjung Wangi :

Panjang Dermaga Sandar :     1.500 Meter

Kedalaman                    :     16 Meter (Alami)

Luas Areal Pelabuhan      :     20 Hektar

Pengelolaan                              :        PT. Pelindo

NO.

URAIAN

SATUAN

FASILITAS TERSEDIA

A

PELAYANAN JASA KAPAL

  1. Labuh

a. Kolam Pelabuhan

Ha

316

b. Penahan Gelombang

M'

0

02. Tambatan

a. B e t o n

M'

518

b. Besi / Kayu

M'

0

  1. Kapal/Motor  Pandu

Unit

1

Kapal/Motor  Kepil

Unit

1

  1. Kapal Tunda

a. s/d  800 PK

Unit

1

b. 801 s/d 1200  PK

Unit

0

B

PELAYANAN JASA BARANG

  1.      Dermaga

M2

7,770

02.01.  Gudang Penumpukan Diusahakan

M2

0

02.02.  Gudang Penumpukan Disewakan

M2

5,050

03.01.  Lapangan Penumpukan Disewakan

M2

24,208

 

Kesehatan
Di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 tercatat terdapat dua RSUD Pemerintah, enam Rumah Sakit Khusus, sembilan Rumah Sakit Swasta, dan 11 Rumah Sakit Bersalin.

Tabel Perkembangan Jumlah Rumah Sakit.
No. U r a i a n Satuan 2004 2005 2006 2007
1. RSUD Pemerintah Buah 2 2 2 2
2. Rumah Sakit ABRI Buah 0 0 0 0
3. RS Departemen Lain Buah 0 0 0 0
4. Rumah Sakit Khusus Buah 5 5 6 6
5. Rumah Sakit Swasta Buah 8 8 9 9
6. Rumah Sakit Bersalin Buah 16 16 11 11
7. Balai Pengobatan ( BP ) Buah 42 42 43 43
8. B K I A Buah 16 16 15 15
9. Puskesmas Buah 45 45 45 45
10. Puskesmas Pembantu Buah 104 104 106 105
11. Puskesmas Keliling Buah 37 37 63 160
12. Posyandu Buah 1.927 1.948 2.063 164
13. Pondok Bersalin Buah 164 164 164 164
14. Apotik Buah 40 44 47 53
15. Toko Obat Buah 10 6 6 6
16. Optikal Buah 7 7 6 6
17. Lab. Kesehatan Daerah Buah 6 3 3 3
18. Laboratorium klinik Swasta Buah 0 6 12 12
19. Rasio fasilitas kesehatan per 10.000 penduduk - - - 16,5 17,17
Sumber Data: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007


Jenis fasilitas kesehatan yang paling banyak tedapat di Kabupaten Banyuwangi adalah Posyandu, Pondok Bersalin dan Puskemas Keliling. Hal ini dimungkinkan karena ketiga jenis fasilitas ini yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat. Selain itu, dikarenakan oleh faktor lokasi rumah sakit yang berada di wilayah perkotaan serta membutuhkan biaya yang lebih besar untuk berobat.

Pendidikan
a) Sekolah Dasar/MI
Jumlah gedung sekolah dasar dan MI negeri di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007 terus menurun semenjak tahun 2004. Namun demikian, jumlah guru dan murid yang tercatat justru meningkat. Hal serupa juga dialami Sekolah Dasar Swasta yang jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya.
b) SLTP/MTs

Jumlah gedung, guru serta siswa SLTP dan MTs baik itu negeri maupun swasta di Kabupaten Banyuwangi terus meningkat selama periode tahun 2004-2007. Tahun 2007 tercatat terdapat 75 unit gedung SLTP/MTs Negeri dan 141 unit gedung SLTP/MTs Swasta dengan jumlah siswa mencapai 42.161 orang untuk SLTP/MTs Negeri dan 27.618 orang untuk SLTP/MTs Swasta.
c) SMU/MA

Jumlah SMU/MA di Kabupaten Banyuwangi cenderung meningkat setiap tahunnya, begitu pula dengan jumlah tenaga pengajar yang juga meningkat. Hal ini menjadi sinyalemen positif untuk menekan besarnya angka rasio jumlah tenaga pengajar terhadap jumlah murid. Untuk saat ini perbandingan jumlah guru terhadap murid SMU/MA di Banyuwangi masih tergolong ideal.
d) SMK
Jumlah gedung dan siswa SMK di Kabupaten Banyuwangi meningkat pesat di tahun 2007. Bila dibandingkan dengan tahun 2004 kenaikannya mencapai hampir 100%. Rasio jumlah guru terhadap siswanya pun paling kecil dibandingkan jenjang pendidikan di bawahnya.
e) Perguruan Tinggi

Terdapat 7 unit Perguruan Tinggi di Kabupaten Banyuwangi yakni UNTAG 1945, STIB, STIKES Banyuwangi, STAI IBRAHIMY, Universitas PGRI Bwi, AKABA, dan STIKES Bakti Indonesia. Total jumlah mahasiswa pada tahun 2007 mencapai 8.506 orang.

Tabel Perkembangan SD, SLTP dan SMU Negeri / Swasta
U r a i a n Satuan 2004 2005 2006 2007
Sekolah dasar/ MI
a. Gedung Sekolah
- Negeri Unit 901 898 836 817
- Swasta Unit 254 256 252 263
b. K e l a s
- Negeri Buah 5.579 5.751 5.769 5.248
- Swasta Buah 1.895 1.798 1.596 1.757
SLTP/MTs/ SLTP Terbuka
a. Gedung Sekolah
- Negeri Unit 63 63 75 75
- Swasta Unit 142 58 134 141
b. K e l a s
- Negeri Buah 1.071 886 981 1.024
- Swasta Buah 2.459 736 741 787
SMU/ MA
a. Gedung Sekolah
- Negeri Unit 21 21 21 21
- Swasta Unit 43 46 46 50
b. K e l a s
- Negeri Buah 588 314 316 352
- Swasta Buah 780 229 241 247
S M K
a. Gedung Sekolah
- Negeri Unit 3 6 7 7
- Swasta Unit 30 25 26 26
b. K e l a s
- Negeri Buah 133 110 138 167
- Swasta Buah 576 256 266 292
Sumber Data: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008


Peribadatan
Fasilitas peribadatan yang ada di Kabupaten Banyuwangi antara lain adalah masjid, langgar, gereja, pura, vihara, dan klenteng. Jumlah langgar mendominasi dan tersebar merata di Kabupaten Banyuwangi.

Tabel Perkembangan Tempat Peribadatan
No. U r a i a n Satuan 2004 2005 2006 2007
1. Masjid Buah 1.589 1.593 1.593 1.598
2. Langgar / Musholla Buah 7.000 7.001 7.001 7.001
3. Gereja Buah 127 127 127 127
4. Pura / Kuil Buah 109 109 122 122
5. Vihara Buah 26 26 26 26
6. Klenteng / Centya Buah 3 3 3 3
Sumber Data: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007


Fasilitas Perdagangan dan Jasa
Fasilitas perdagangan dan jasa yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari pasar umum, hewan dan pasar desa, Toko, Bank, Pegadaian dan KUD. Fasilitas perdagangan untuk pasar umum terletak di Kecamatan Bangorejo, Purwoharjo, Tegaldlimo, Muncar, Cluring, Gambiran, Glenmore, Kalibaru, Genteng, Srono, Rogojampi, Sempu, Banyuwangi, Giri, dan Tegalsari. Jumlah terbanyak terdapat di Kecamatan Banyuwangi sebanyak empat unit. Pasar Hewan sebanyak lima unit terletak di Kecamatan Bangorejo, Glenmore, Genteng, Rogojampi, dan Banyuwangi. Untuk pasar desa terdapat di setiap kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Perubahan yang signifikan terjadi pada meningkatnya jumlah pasar swalayan dan mall di Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun 2007 terdapat empat unit malldan 32 unit pasar swalayan. Meningkat lebih dari 100% dibandingkan tahun 2004. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Perkembangan Sarana Perdagangan
No Uraian Satuan 2004 2005 2006 2007
A PASAR DAERAH          
  1. Umum Unit 20 20 20 20
  2. Hewan Unit 5 5 5 5
  3. Lain - Lain Unit - - - -
  4. Pedagang Orang - 4.405 4.803 4.982
B PASAR DESA          
  1. Umum Unit 57 58 61 61
  2. Hewan Unit 4 4 4 4
  3. Lain - Lain / Inpres Unit 4 4 4 4
  4. Pedagang Orang - 14.572 15.270 15.392
C Lain - Lain Perdagangan          
  1. Mall Unit 2 3 3 4
  2. Swalayan Unit 6 8 8 32
Sumber Data: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007


Industri dan Gudang
Jenis industri yang berkembang di Kabupaten Banyuwangi adalah industri besar sedang dan kecil. Jenis industri yang paling mendominasi adalah jenis industri kecil yang jumlahnya mencapai 2.386 unit di tahun 2007. Industri besar dan menengah hanya empat unit di tahun yang sama. Industri pengolahan pangan merupakan industri yang paling mendominasi unit usah industri kecil di Kabupaten Banyuwangi. Jumlahnya mencapai 1.235 unit atau 51,7% dari total unit usaha industri kecil di Banyuwangi.

Tabel Perkembangan Sentra Industri Kecil
N o. U r a i a n Satuan 2004 2005 2006 2007
1. Jumlah Sentra Industri Kecil          
- Pengolahan Pangan Buah 19 19 20 20
- Sandang dan Kulit Buah 13 13 13 13
- Kimia & Bahan Bangunan Buah 7 7 8 8
- Kerajinan Umum Buah 14 16 16 17
- Logam Buah 8 8 8 8
J u m l a h Buah 61 63 65 66
2. Jumlah Unit Usaha          
- Pengolahan Pangan Buah 1.255 1.225 1.235 1.235
- Sandang dan Kulit Buah 85 85 85 85
- Kimia & Bahan Bangunan Buah 616 616 666 666
- Kerajinan Umum Buah 253 273 273 293
- Logam Buah 107 107 107 107
J u m l a h Buah 2.316 2.306 2.366 2.386
3. Jumlah Tenaga Kerja          
- Pengolahan Pangan Orang 2.598 2.598 2.625 2.628
- Sandang dan Kulit Orang 331 331 331 331
- Kimia & Bahan Bangunan Orang 1.708 1.708 1.808 1.808
- Kerajinan Umum Orang 1.076 1.176 1.176 1.216
- Logam Orang 346 346 346 346
J u m l a h Orang 6.059 6.159 6.286 6.326
4. Jumlah Unit Pelayanan Teknik ( UPT ) Buah 1 1 1 1
5. Jumlah Lingkungan Industri ( LIK ) Buah - - -  
6. Jumlah Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan (KOPINKRA ) Buah 9 - 9 9
7. Tenaga Penyuluh Lapangan          
- Spesialis ( TPLS ) Orang - - - -
- Generalis ( TPLG ) Orang - - - -
Sumber Data: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007

Air Bersih

Kebutuhan air bersih di Kabupaten Banyuwangi yang dikelola oleh PDAM hanya melayani beberapa wilayah diantaranya ialah Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Kalipuro, Rogojampi, Muncar, Genteng, dan Wongsorejo. Kebutuhan air bersih dengan sistem perpipaan yang dikelola PDAM belum seluruhnya dirasakan oleh masyarakat. Sebagian masyarakat masih menggunakan sumur dan sungai serta air bersih dari HIPPA.

Tabel Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
No Uraian Satuan 2004 2005 2006 2007
1. Jumlah Perusahaan air minum Unit 4 5 5 5
2. Jumlah Pegawai/ Karyawan Orang 194 189 186 180
3. Kapasitas Produksi Ltr/detik 263,90 273,88 281,45 310,67
4. Kapasitas Distribusi Ltr/detik 256,96 266,91 272,07 286,80
5. Kapasitas Kebutuhan Ltr/detik 214,26 224,16 228,19 241,14
6. Tempat penjernihan/IPA /SIPAS Buah - - - -
7. Jumlah Tandon Air Buah 6 6 6 6
8. Panjang Pipa Air Minum Transmisi / Distribusi km 355.015 364.015 367.793 373.199
9. Jumlah Pompa air minum sebagai alat Bantu penyaluran Buah 4 4 6 6
10. Jumlah air yang diproduksi M3 8.345.266 8.637.114 8.875.893 9.797.397,05
11. Jumlah air yang didistribusikan M3 8.125.583 8.417.294,81 8.579.848 9.044.497,20
12. Jumlah air yang terjual M3 6.775.293 7.069.087 7.196.236 7.604.647
13. Jumlah Pelanggan          
- Perumahan/ Rumah Tangga Buah 25.952 27.197 27.744 28.597
- Perdagangan/ Usaha Buah 1.633 1.831 2.030 2.122
- Industri Buah 25 25 20 20
- Pelayanan Masyarakat Buah 874 889 892 915
- Instansi Pemerintah Buah 213 222 221 219
14. Kehilangan air selama proses produksi M3 1.284.494 1.175.153 296.045,04 752.896,85
15. Kehilangan air selama proses distribusi M3 1.341.446 1.343.189,81 1.377.937 1.437.583,2
16. Jumlah pendapatan usaha Juta Rp. 10.444.577 10.992.000 11.547.547 12.423.560
17. Jumlah Investasi Juta Rp. 1.647.835 904.333 2.362.693 848.847
18. Pemasukan pada PAD Juta Rp. 300 400 500 750
19. Rata-rata Konsumsi Air Minum L/orang/ hari 138 138 138 141
Sumber Data: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007


Persampahan
Sistem persampahan di Kabupaten Banyuwangi dilakukan dengan dua sistem pembuangan yaitu secara tradisional dan dikelola secara khusus oleh Dinas Kebersihan Kabupaten Banyuwangi. Pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi hanya melayani beberapa Kecamatan yaitu Kecamatan Banyuwangi, Kalipuro, Giri, Glagah, Rogojampi, Genteng, Srono, Muncar, dan Gambiran. Pembuangan sampah secara tradisional, yakni melalui pemusnahan sampah dengan cara menimbun sampah di pekarangan rumah, membakar atau juga membuang sampah di tanah-Iahan kosong yang ada maupun dibuang di sungai. Berdasarkan data dari DKPLH (Dinas Kebersihan Pertamanan dan Lingkungan Hidup) Jumlah pasukan kuning di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 201, dengan area pelayanan meliputi Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Kalipuro. Volume sampah kurang lebih 176 m3. Pembuangan akhir sampah di Kabupaten Banyuwangi ditempatkan pada tiga TPA yakni TPA Bulusan dengan luas 1,5 Ha di Kecamatan Kalipuro, TPA yang terletak di Desa Getek Kecamatan Rogojampai seluas 0,5 Ha, dan TPA di Desa Wringinagung Kecamatan Gambiran. Sistem yang dipergunakan untuk TPA ialah ditimbun dan dibakar. Peralatan yang dimiliki adalah truck sebanyak 16 unit, buldozer 1 unit dan mobil 1 unit. Jumlah TPS yang ada di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 43 unit dan 8 unit transfer depo.

Sanitasi
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Banyuwangi, jumlah keluarga yang memiliki jamban pada Tahun 2003 sebanyak 138.579 keluarga dan pada Tahun 2004 sebanyak 195.135 keluarga. Dari data tersebut terlihat bahwa prosentase keluarga yang menggunakan jamban pada Tahun 2003 sebesar 32% sedangkan pada tahun 2004 mengalami kenaikan menjadi 44%. Ada sebagian masyarakat yang masih membuang limbah padat maupun limbah cair yang dihasilkan oleh manusia maupun rumah tangga langsung ke badan air (sungai).

Listrik
Hingga tahun 2007 seluruh desa di Kabupaten Banyuwangi telah teraliri listrik dengan konsumsi listrik keseluruhan mencapai 430.165.115 Kwh/Kpt atau naik 8,5% dari tahun sebelumnya. Jumlah total pelanggan listrik PLN di tahun 2007 mencapai 289.634 pelanggan. Sebanyak 263.935 (91%) diantaranya adalah pelanggan rumah tangga. Informasi secara lebih lengkap disajikan dalam tabel berikut.

Tabel Perkembangan Listrik Pedesaan
No. U r a i a n Satuan 2004 2005 2006 2007
1. Desa Berlistrik Desa 219 220 220 220
2. Desa Belum Berlistrik Desa - - - -
3. Distribusi          
- JTM Kms 1.183 1.234 1.268 1.356
- JTR Kms 1.839 1.968 2.022 2.490
- Gardu Unit 1.206 1.238 1.432 1.494
4. Transmisi / JTT Kms - - - -
5. Gardu Induk / TRAFO Unit/ Buah 2/5 2/5 2/5 2/5
6. Konsumsi Tenaga Listrik Kwh/ Kpt 354.584.287 375.952.243 396.107.362 430.165.115
7. S R Buah 270.419 275.954 280.760 282.611
8. Jumlah Pelanggan          
- Rumah Tangga (R) Pelanggan 245.351 250.569 255.393 263.935
- Usaha (B) Pelanggan 16.826 16.951 16.886 16.967
- Industri (I) Pelanggan 259 282 293 303
- Umum
(P & S)
Pelanggan 8.029 8.152 8.188 8.429
Sumber Data: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007

 

Tabel Perkembangan Produksi Tenaga Listrik
No. U r a i a n Satuan 2004 2005 2006 2007
1. Jumlah Daya Tersambung MVA 180 180 251 263
2. Jumlah Distribusi Listrik          
- Rumah Tangga/ Perumahan MWH 222.439 232.512 246.960,49 267.595
- Perdagangan/ Usaha MWH 30.000 34.835 40.715,41 45.230
- Pelayanan Masyarakat MWH 30.886 33.698 33.318,23 33.119
- Industri MWH 71.861 74.907 75.113,36 80.410
3. Jumlah Pelanggan Menurut Kelompok          
- Rumah Tangga / Perumahan Pelanggan 245.351 250.569 255.393 263.935
- Perdagangan/ Usaha Pelanggan 16.826 16.951 16.886 16.967
- Pelayanan Masyarakat Pelanggan 8.029 8.152 8.188 8.429
- Industri Pelanggan 259 282 293 303
Sumber Data: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007


Telepon
Di Kabupaten Banyuwangi terdapat 11 kantor Telkom guna melayani kebutuhan telekomunikasi di Kabupaten Banyuwangi. Jaringan telepon masih belum merata di seluruh Kabupaten Banyuwangi.

Transportasi Darat
Berdasarkan hasil catatan Unit Pelaksana Teknis Bina Marga Propinsi Jawa Timur dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyuwangi, pada tahun 2006-2007 tidak ada peningkatan panjang jalan yang beraspal, yaitu sebesar 100,53 km jalan negara, dan 114,35 km jalan propinsi. Namun demikian terdapat peningkatan kondisi jalan negara dari panjang jalan dalam kondisi baik sebesar 45,98 km menjadi 46,98 km. Untuk jalan Kabupaten, pada tahun 2006, kondisi jalan dari seluruh ruas jalan mengalami peningkatan dari 1.092,81 km meningkat menjadi 1.746,8 km dan menjadi 1.796,8 km dalam kondisi baik, sedangkan kondisi jalan kabupaten yang rusak ringan menurun dari 314 km pada tahun 2006 menjadi 137 km pada tahun 2008. Jaringan jalan di Kabupaten Banyuwangi berdasarkan data profil kabupaten tahun 2007, dibagi menjadi lima jenis yaitu jalan kabupaten, jalan provinsi, jalan ex provinsi, jalan negara dan jalan makadam. Sebagian besar jaringan jalan di Kabupaten Banyuwangi berada dalam kondisi baik. Hanya jaringan jalan di daerah tertentu saja yang perlu mendapatkan perhatian karena kondisinya sudah rusak seperti jalan menuju obyek wisata Kawah Ijen, Pantai Sukamade, Pulau Merah, serta Taman Nasional Alas Purwo. Untuk lebih jelasnya, perkembangan kondisi jalan di Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Perkembangan Panjang Jalan Kabupaten, Propinsi dan Negara
No. U r a i a n Satuan 2004 2005 2006 2007
1. Jalan Kabupaten Km        
a. Baik Km 242,48 915,4 1.092,81 1.746,8
b. Sedang Km 591,22 155,09 132,13 164
c. Rusak Km 190,91 314,56 235,56 143
d. Rusak Berat Km 65,21 101,5 101,5 217,80
2. Jalan Propinsi Km        
a. Baik Km 12,410 11,710 16,720 9,295
b. Sedang Km 9,220 9,920 5,000 12,425
c. Rusak Km 0,000 0,000 0,000 0,000
d. Rusak Berat Km 0,000 0,000 0,000 0,000
3. Jalan Ex Propinsi Km        
a. Baik Km 51,130 43,010 59,180 32,660
b. Sedang Km 39,000 45,520 31,530 52,950
c. Rusak Km 2,500 4,100 1,920 7,020
d. Rusak Berat Km 0,000 0,000 0,000 0,000
4. Jalan Negara Km        
a. Baik Km 59,980 23,060 23,080 46,080
b. Sedang Km 35,550 60,250 75,350 54,450
c. Rusak Km 5,000 17,220 2,100 0,000
d. Rusak Berat Km 0,000 0,000 0,000 0,000
5. Jalan Makadam Km        
a. Baik Km - 1.050 - 1.073
b. Sedang Km - 600 - -
c. Rusak Km - 75 - -
d. Rusak Berat Km - - - -
Sumber Data: Profil Kabuoaten Banyuwangi Tahun 2007.


Jumlah terminal angkutan umum di Kabupaten Banyuwangi sebagai berikut. 1. Terminal Sri Tanjung di Kecamatan Kalipuro 2. Terminal Blambangan di Kecamatan Banyuwangi 3. Terminal Brawijaya di Kecamatan Banyuwangi 4. Terminal Sasak Perot di Kecamatan Giri 5. Terminal Genteng di Kecamatan Genteng 6. Terminal Gambiran di Kecamatan Gambiran 7. Terminal Rogojampi di Kecamatan Rogojampi 8. Terminal Muncar di Kecamatan Muncar Jaringan rel kereta api membelah wilayah tengah Kabupaten Banyuwangi. Jaringan Kereta Api (KA) di Kabupaten Banyuwangi meliputi jalur Surabaya, Malang, Probolinggo, Madiun, Nganjuk, dan Jember. Pelayanan arus penumpang Kereta Api di Kabupaten Banyuwangi dilayani oleh beberapa jenis kereta baik kelas ekonomi hingga eksekutif. Terdapat dua kategori Stasiun Kereta Api di Kabupaten Banyuwangi yakni sebagai berikut.

1. Stasiun Kelas I

  • Stasiun Kereta Api Banyuwangi

2. Stasiun Kelas II

  • Stasiun Karangasem
  • Stasiun Rogojampi
  • Stasiun Kalisetail
  • Stasiun Kalibaru
  • Stasiun Temuguruh


Transportasi Laut
Terdapat dua pelabuhan laut utama di Banyuwangi yaitu Pelabuhan Tanjung Wangi yang melayani bongkar muat barang, serta Pelabuhan Meneng yang melayani penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Pelabuhan Tanjungwangi berdasarkan Surat Menteri Perhubungan No. KM.119/0/Phb.73, tanggal 2 Nopember 1973 ditetapkan sebagai pelabuhan yang terbuka untuk perdagangan dalam dan luar negeri/ antar negara dan dikategorikan sebagai pelabuhan kelas II. Arus penumpang di Pelabuhan Tanjung Wangi cenderung menurun tiap tahunnya, hal ini dikarenakan fungsi pelabuhan ini yang lebih cenderung pada aktivitas bongkar muat barang. Berbeda halnya dengan Pelabuhan Meneng (Pelabuhan Ketapang) yang arus penumpangnya cenderung terus meningkat setiap tahun. Hal ini karena tingginya minat masyarakat yang menggunakan jalur darat menuju Pulau Bali, serta karena pesatnya arus migrasi masyarakat Banyuwangi ataupun di luar Kabupaten Banyuwangi menuju Bali.

Transportasi Udara
Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengacu perkembangan daerah serta mengantisipasi pertumbuhan wilayahnya, Kabupaten Banyuwangi membangun bandar udara. Lokasi bandar udara di Kabupaten Banyuwangi terletak sekitar 15 km dari pusat Kota Banyuwangi. Secara administratif lokasi bandar udara Banyuwangi ini terletak di Desa Blimbingsari Kecamatan Rogojampi. Letak geografis Bandar Udara Banyuwangi berada pada posisi 08 0 18' 42.70" LS dan 1140 20" 16.30" BT. Terletak pada ketinggian ± 20 - 30 di atas permukaan laut rata-rata. Kondisi topografi relatif datar, dengan kemiringan kurang dari 1 %. Saat ini Bandar Udara Blimbingsari telah beroperasi dengan 2 maskapai yaitu Merpati Nusantara Airlines dan Wings Air yang melayani rute Banyuwangi-Surabaya PP.

Strategi Kebijakan dan Program

Pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai disebut dengan strategi. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah (strategy focused-management). Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komprehensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran penanaman modal dengan efektif dan efisien. Strategi dan arah kebijakan pengembangan penanaman modal Kabupaten Banyuwangi sebagai berikut:

Strategi

Ada pun strategi yang akan ditempuh dalam pembangunan penanaman modal di Kabupaten Banyuwangi adalah:

  1. Menghapuskan ekonomi biaya tinggi antara lain dengan penyederhanaan prosedur perijinan;
  2. Penciptaan iklim usaha dan dunia usaha yang kondusif bagi datangnya investor dan berkembangnya dunia usaha;
  3. Peningkatan ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang mendukung investasi.
  4. Penciptaan kesempatan kerja seluas-luasnya dan merata ;
  5. Peningkatan promosi investasi secara terstruktur dan terintegrasi;
  6. Peningkatan kualitas sumber daya manusia secara dinamis, berdaya saing dan berkelanjutan;
  7. Optimalisasi kinerja dan pelayanan birokrasi;
  8. Penciptaan kemudahan akses pemodalan, teknologi pertanian dan memperluas akses pasar;
  9. Peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian secara dinamis, berdaya saing dan berkelanjutan;
  10. Penyediaan bibit unggul, pupuk dan obat-obatan;
  11. Peningkatan nilai ekonomis produk pertanian melalui pengembangan sistem agribisnis;
  12. Peningkatan mutu layanan dan diversifikasi produk wisata melalui penyediaan sarana dan prasarana wisata yang memiliki keunggulan strategis.

Arah Kebijakan

Prioritas Kabupaten Banyuwangi di bidang penanaman modal adalah peningkatan investasi dan iklim usaha. Untuk itu arah kebijakan yang akan ditempuh sebagai berikut:

  1. Mengintesifkan promosi investasi pada bidang usaha yang berbasis potensi lokal, khususnya yang berbasis pada agrobisnis dan industri pengolahan SDA
  2. Mengembangkan kelembagaan pelayanan penanaman modal yang efisien (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) berbasis IT (online system).
  3. Meningkatkan kapasitas dan kualitas promosi investasi (format promosi, materi/bahan, intensitas), serta melakukan upaya-upaya pencitraan iklim investasi.
  4. Meningkatkan daya dukung (daya jangkau dan jangka layanan) infrastruktur dasar terhadap perekonomian daerah, khususnya dalam penyediaan energi listrik.
  5. Perencanaan kerjasama pengembangan yang mengerucut pada iklim investasi yang produktif, seperti zonasi pengembangan ekonomi dan bisnis; sinergitas peraturan investasi, dll

Program

Sesuai dengan fokus strategi dan arah kebijakan, maka program yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu 2011-2025.

Sektor Unggulan

Yang termasuk sektor unggulan di Kabupaten Banyuwangi adalah:

a) Sektor Pariwisata

Mengintip Potensi Wisata, Banyuwangi ternyata merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Dengan kondisi lingkungan alam yang strategis seperti adanya wilayah pesisir dan dataran tinggi, membuat Kabupaten Banyuwangi memiliki pemandangan alam yang luar biasa sebagai daerah tujuan wisata.

Obyek wisata di Kabupaten Banyuwangi di klasifikasikan dalam wisata alam (meliputi; wisata pantai, wisata pulau, wisata hutan, wisata air terjun, wisata agro dan wisata alam lainnya), wisata budaya (meliputi; kesenian tradisional, upacara adat / tradisi, wisata budaya kampung tradisional, wisata sejarah, dan wisata religi), wisata buatan/binaan manusia, wisata lainnya.

Kata Kunci Kepariwisataan “Banyuwangi” adalah THE SUNRISE OF JAVA. penetapan Gandrung sebagai Maskot Pariwisata, dan penetapan Segi Tiga Berlian (meliputi Kawah Ijen, Sukamade dan Plengkung) sebagai ikon pariwisata alam Banyuwangi. Tidak kalah menariknya Banyuwangi sebagai “CITY OF ART” dengan keragaman budaya yang dimiliki, akar budaya lokal yang kuat dan Interaksi budaya antar etnis yang ada serta letak geografis yang strategis.

Berikut potensi pariwisata banyuwangi :

Wisata Alam Pantai

Dengan garis pantai yang sangat panjang membentang dari wilayah Kecamatan Wongsorejo sampai dengan Kecamatan Pesanggaran sepanjang 175 Km, tentunya hal ini merupakan potensi yang sangat besar bagi pariwisata utamanya dengan keunggulan pantai yang berangam mulai dari eksotisme ombak, keindahan dan keaaneka ragaman terumbu karang, ekosistem mangrove yang masih asli, serta keaneka ragaman hayati yang ada di sepanjang pantai yang yang merupakan daya tarik yang sangat kuat bagi pariwisata karena keunikan dan kekhasan yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya di luar Banyuwangi.

G-Land / Pantai Plengkung

Picture1

G-Land / Pantai Plengkung Berada di Wilayah Kecamatan Tegaldlimo dan berada pada Areal Taman Nasional Alas Purwo (Banyuwangi Selatan) dengan jarak tempuh dari Kota Banyuwangi 75 Km, menyajikan eksotisme ombak dengan ketinggian mencapai 5 M yang sangat potensial untuk olah raga selancar (surfing), dipadu dengan keindahan pantai dan hutan yang mengelilingi. Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan Roda 2 dan Roda 4. Tersedia Camp atau Penginapan dengan kapasitas 100 orang.

Pantai Sukamade


Pantai Sukamade berada dalam area konservasi Taman Nasional Meru Betirimenyajikan eksotisme ekosistem pantai yang menawan, disini merupakan tempat dimana penyu hijau yang merupakan spesies penyu yang langka berkembang biak, pada musim bertelur kita akan menemukan pemandangan yang sangat menakjubkan yaitu penyu-penyu yang sedang bertelur. Pantai Sukamade berada pada Wilayah Kecamatan Pesanggaran, Jarak tempuh 100 km dari Kota Banyuwangi dengan Kendaraan Roda 4 dan 2.

Pulau Merah


Pulau Merah Berada di Wilayah Kecamatan Pesanggaran, dengan jarak tempuh dari Kota Banyuwangi 75 Km, menyajikan eksotisme pantai dengan pasir putih yang menawan dipadu pulau-pulau karang kecil yang indah serta ombak yang sangat potensial untuk olah raga selancar (surfing), untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan Roda 2 dan Roda 4.

Kawah Ijen

Kawah Ijen Yang Berada Pada Wilayah Kecamatan Licin dan masuk dalam kawasan taman nasional Dengan Jarak Tempuh 25 KM Dari Kota Banyuwangi, pesona alam pegunungan dengan kawah dan aktivitas penambang belerang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Menuju lokasi kawah bisa ditempuh dengan kendaraan Roda 4 / 2 kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju puncak / kawah.

Internal Link